yamadaaaaa mangap

[Fanfic] Kabedon (Ninomiya Kazunari x OC)

Title : Kabe-don
Cast :

  • Ninomiya Kazunari (Arashi)

  • OC (Unknown chara / ‘Me’ chara)

Genre : Fluff
Rating : G
A/N 1 : Ini gara-gara nonton Nino-san yang bintang tamunya Arioka Daiki xD Sebodo amat, pas Nino nge-kabe-don, laptop sisi kiri langsung aku tutupi pake tangan :)) Tapi kok beda ya, scene yang ada di benakku gak sama kaya yang dipraktekin di situ. Hmm
A/N 2 : Why, Ninomiya? Why you make me fall in love with you? Whyyyy?! T.T
A/N 3 : Yang story 3 gara gara habis nonton Platinum Data. Ehemteriakteriakgakjelasehem


DRABBLE

==================================================================================

Story 1

Remahan crepes bertebaran semakin banyak di atas meja di hadapanku ketika aku mulai memakan crepes keenam. Mungkin malah penjaga kedai crepes Monica ini mulai bosan melihatku yang mampir terus dan bukannya langsung membeli dalam jumlah banyak. Bahkan waktu tunggu layar di ponselku sudah kuubah menjadi 30 menit supaya aku tidak perlu menekan tombol power terus menerus. Kotak susu yogurt yang ada di hadapanku sudah kosong sejak satu jam yang lalu. Menunggu seseorang selama lebih dari dua setengah jam tanpa kepastian itu sungguh melelahkan.

“Terima kasih.”

Keningku berkerut setelah mendengar sebuah suara yang kukenal. Aku menoleh perlahan, dan tepat seperti dugaanku, aku menemukan seorang wanita berusia sekitar 30-an berdiri di belakangku. Ia adalah teman kerja sekaligus teman SMA Ninomiya. Begitu melihaku, wanita itu segera melambai dan berlari ke arahku.

Araaa. Kok sendirian di sini? Kenapa tadi tidak ikut Ninomiya ke acara reuni SMA? Apa Kazu tidak mengajakmu?” Pertanyaan wanita itu berhasil membungkam mulutku. Kalimatku seakan tercekat di kerongkongan, terhalang oleh semua spekulasi yang muncul. Crepes di tanganku spontan remuk dan berjatuhan di atas tanah.
“Ah, aku hanya sedang ingin makan crepes kok. Hehe.” Aku tersenyum. Tersenyum dengan sebuah senyuman yang tidak benar-benar merupakan sebuah senyuman.
“Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Aku masih ada banyak pekerjaan. Bye bye.” Wanita paruh baya itu berjalan pergi setelah sebelumnya melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum, dan senyuman itu segera pudar setelah wanita itu tak lagi melihatku.

Setengah jam kemudian aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kedai karena sudah terlampau jenuh. Tepat saat kaki kananku hampir melangkah ke jalan di sisi kedai, aku mendengar seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Aku berbalik dengan malas dan di sana aku melihat Ninomiya. Ia terlihat berlari mendekat, bahkan gerak kakinya semakin dipercepat ketika menyadari aku masih berdiri di samping kedai Crepes Monica. Kedua mataku memicing hingga ia tiba tepat di hadapanku.

“Hei, maa─”
“Tidak perlu.” Selaku. Aku berbalik kemudian mulai berjalan meninggalkannya.
“Hei, ayolah, maafkan aku karena lupa menghubungimu.”
Kaeru wa, Ninomiya!”

Langkah kakiku semakin kupercepat meninggalkannya hingga aku mulai terpisah dari sisi kedai. Sesaat setelah aku menghela nafas panjang, Ninomiya menarik pundakku dan memerangkapku di antara kedua lengannya. Baju belakangku bersentuhan dengan sisi ujung kedai, sisi yang jauh dari jalan utama dan jauh dari keramaian orang yang mengantri untuk membeli crepes. Aku mendongak menatap laki-laki yang berusia 13 tahun lebih tua dariku itu. Ia mendekatkan wajahnya padaku sembari menarik senyum simpul di wajahnya.

‘Ninomiya-kun’, darou?”

Aku memukul bahunya keras setelah terdiam beberapa saat. Ia tertawa, menyadari bahwa aku telah masuk ke dalam pesonanya.

“Ayo pulang.” Ucapnya. Ia balik memukul bahuku pelan, kemudian berjalan mendahuluiku. “Ngomong-ngomong, kau makan berapa banyak crepes? Remahannya berceceran di bajumu.”
Uruseeee.”

=================================Story 1 END=======================================


Story 2

Suara pintu terbuka sama sekali tak mengusikku yang tengah asik di depan laptop, bahkan sampai Ninomiya duduk di sampingku pun aku tak peduli. Ia menaruh dagunya di atas pundak kananku dan ikut melihat video yang tengah terputar di laptopku, namun sedetik kemudian ia langsung terlonjak.

"Kenapa kau melihat episode yang ini?" Tanyanya dengan suara terkejut bercampur menuntut.
"Nino-kun lucu sih, di-kabedon sama cowok yang lebih tinggi. Bikin skenario lagi. Apa-apaan coba. Wkwkwk dasar chibi." Ucapku tanpa jeda yang langsung disusul oleh tawa.

Ninomiya terdiam dan mengalihkan pandangannya. Sepertinya ia merasa aneh melihat dirinya sendiri di dalam acara Nino-san yang tayang tanggal 10 Agustus 2014. Saat aku masih sibuk menertawakan Ninomiya, lelaki pelit itu mendadak menepuk pundakku.

"Kalau kau bisa meniru adegan kabedon itu bersamaku dengan bagus, aku akan mentraktirmu ramen kesukaanmu."

Mendengar kata 'traktir' yang teramat sangat keramat, apalagi mendadak diucapkan oleh seorang Ninomiya Kazunari, aku sontak menoleh. Dia? Traktir? Apa dia akan menyuruhku untuk bicara pada media bahwa dia mentraktirku, sama seperti apa yang dikatakan Yamada Ryosuke?

"Kau yakin tidak sedang demam?"

Pertanyaanku itu tak digubrisnya sama sekali. Dengan cekatan ia mematikan laptopku lalu menarik tanganku sehingga membuatku beranjak dari sofa dan berdiri di lantai ruang tamu. Ia memposisikan tubuhku berdiri membelakanginya, sementara ia sendiri mundur beberapa langkah.

"Oke? Reka adegan dimulai dalam 3, 2, 1─"

Tangan kirinya menyentuh bahu kiriku lalu menarik tubuhku hingga punggungku bersentuhan dengan dinding dan secara cepat tangan kanannya memukul dinding di dekat sisi kiri wajahku. Ninomiya mendekat, mempersempit jarak di antara kami berdua. Ia lalu berhenti dan menunduk memandangku yang lebih pendek 18cm darinya.

"Me wo tojiro yo." Tatapan matanya tampak menyorotkan sebuah arti. Aku balik menatapnya, berusaha melawan tatapan mengintimidasi darinya.
"Urusai yo." Aku hapal apa yang diucapnya di Nino-san karena aku telah menontonnya sepanjang hari. Adegan di dalam Nino-san berakhir di situ, namun segera setelah aku menirukan kalimat Ninomiya, lelaki berusia 32 tahun itu mendekatkan wajahnya padaku, dan─

"Oit,"

─aku menusuk dagunya dari bawah dengan telunjukku, membuatnya terdongak dan tak bisa menciumku.

"Tidak boleh ada penambahan adegan. Hai, reka adegan selesai di sini~" Aku berjalan menerobos lengan kanan kekasihku sejak satu tahun yang lalu itu dan bergegas kembali menonton Nino-san.
"Kalau begitu kau yang traktir aku sushi di tempat biasanya."
"Heee?! Kenapa harus?!" Aku menatapnya tak percaya. Jemariku berhenti terlupakan di atas tombol power.
"Karena kau tidak menuruti kemauan Ninomiya-sama." Ia berlalu sembari bersiul riang. Tatapan membunuhku terpancar saat Ninomiya mulai berjalan menjauh.
"Yappari, seharusnya aku tidak mempercayai kata traktir yang terucap darimu."

=================================Story 2 END=======================================


Story 3


"Dia umur berapa sih pas syuting ini? Kok wajahnya tetep aja gak berubah." Dua buah kentang goreng masuk ke dalam mulutku setelah aku bergumam tak jelas.

Hari ini adalah hari libur, jadi aku tidak masuk kuliah. Seperti hari liburku yang biasa, aku menyempatkan diri untuk datang ke apartemen Ninomiya untuk membereskan apartemennya yang bisa jadi sangat berantakan terutama jika ia sedang terobsesi dengan game keluaran terbaru. Aku tahu ia lebih sibuk dariku, itulah alasan kenapa aku menawarkan diri untuk datang ke apartemennya, walau pada akhirnya aku malah terkesan seperti ibunya dan bukan kekasihnya.

Ninomiya belum pulang dari lokasi syuting Arashi ni Shiyagare. Jam di dinding ruang tamu menunjukkan jam 9.45 , yang artinya syuting akan selesai lima belas menit lagi. Aku menyandarkan tubuhku ke sofa ruang tamu sementara kedua mataku terfokus pada laptop yang selalu kubawa jika bermain ke apartemen Ninomiya. Aku sedang menonton film ‘Platinum Data’ yang kudapat dari temanku. Percaya atau tidak, aku bahkan belum menonton film itu sedangkan aku sudah berstatus menjadi kekasih Ninomiya sejak setahun yang lalu. Lagipula Ninomiya tidak pernah menanyakan hal-hal seputar filmnya padaku. Dia lebih senang bercerita tentang game yang ia mainkan.

Beberapa kali aku tertawa, terutama ketika lawan mainnya di situ lebih tinggi darinya, wanita pula. Aku tidak bisa mempercayai bahwa Ninomiya berusia 30 tahun di film itu. Dia terlihat terlalu muda untuk berusia 30 tahun. Aku menonton film itu dengan antusias, hingga tiba di scene terakhir.

Aku mematung di tempat. Pandanganku masih terarah pada layar laptop, malah itulah yang membuatku terpaku. Ninomiya dan lawan mainnya di situ tampak mesra, bahkan lelaki yang terlampau pelit itu tersenyum begitu manis dan damai ketika kedua kening mereka bersentuhan. Tangan kiri Ninomiya memegang pipi kanan sang aktris sementara kedua mata sang aktris terpejam. Kedua hidung mereka bersentuhan, dan ketika tampaknya kedua bibir mereka hampir bertemu, layar laptopku berubah hitam dan film pun selesai.

Kedua mataku tak lepas memandang layar. Bagaimana mungkin aku tak terkejut melihat kekasihku sendiri berakting mesra dengan seorang aktris? Rambutku tampak berantakan segera setelah aku mengacaknya. Aku tahu bahwa ia selalu lebih menginginkan untuk belajar akting, aku juga tahu bahwa ia selalu bersikap profesional. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksiku jika saja mereka benar-benar berciuman di film itu.

"Tadaima."

Terdengar suara pintu menutup dan aku mendongak. Ninomiya melepas kedua sepatunya juga kaos kakinya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya, baru setelah itu berjalan menghampiriku. Ia mengacak rambutku setelah meletakkan tasnya di sofa di sampingku. Pandangannya terarah pada laptop hitam di atas meja, lalu kepadaku.

"Kau tidak sedang menonton Nino-san episode itu lagi kan?"
"Akting itu enak ya."
"Eh?"

Kedua mata Ninomiya mengerjap-erjap sembari memandangku yang tengah memasang muka masam. Ia kemudian berlutut di depan meja dan mulai mengutak-atik laptopku. Lelaki cerewet itu menggeser kursor, lalu layar laptop yang sebelumnya hitam berubah dan menampilkan scene dalam ‘Platinum Data’.

Scene terakhir.

"Aah! Aku gak mau tahu lagi!"

Aku beranjak meninggalkan Ninomiya dan berjalan menuju dapur. Gerutuan tak jelas meluncur dari mulutku seiring langkah kakiku menuju lemari es. Pintu lemari es baru terbuka sedikit ketika tangan yang sangat kukenal itu mendorongnya menutup lalu memerangkapku. Aku berbalik dan mendapati Ninomiya yang berjarak sangat dekat denganku.

"Apa? Mau kabe-don aku lagi biar aku gak marah?" Tanyaku.

Aku menatapnya tajam lalu berjalan menunduk menerobos kedua lengannya dan berjalan keluar dapur. Namun sebelum aku melangkah keluar dapur, tangannya menangkap lenganku lalu membawaku menuju sisi dapur dan, bingo!, memerangkapku lagi di antara kedua lengannya dan dinding dapur.

"Kamu cemburu?" Tatapan mata Ninomiya bertemu dengan tatapan mataku.
"Enggak." Jawabku cepat. Ia sedikit tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya.
 "Kamu cemburu?" Lagi-lagi ia bertanya. Ia menurunkan tangan kanannya lalu membelai pipi kiriku.
"Enggak! Siapa juga yang─"

Kedua kening juga kedua hidung kami bersentuhan. Aku dapat melihatnya memejamkan kedua matanya. Tangan kanannya terus berada pipi kiriku, sesekali menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Sang aktor melakukan persis seperti apa yang ia lakukan dalam film yang rilis pada tahun 2013 tersebut. Kedua mataku terpejam, masuk ke dalam pesonanya. Ketika hingga akhirnya kedua bibir kami hampir bertemu─

Ting Tong

Mata kami sontak terbuka dan ia spontan menegakkan tubuhnya. Ia memandang ke arah pintu sembari mendecakkan lidahnya. Aku mendongak memandangnya, kemudian tawa geli seketika meluncur dari mulutku.

"Aku lupa kalau Sho mau mampir." Ucapnya sembari mengusap tengkuk lehernya.
"Sudah sana, buka pintunya. Sakurai-kun menunggu." Aku mendorong tubuhnya untuk berjalan menuju pintu tapi ia bergeming.
"Aaa padahal akhirnya kau mau aku dekati. Ish, kenapa Sho cepat sekali datang."
"Heeeh, sana. Buka pintunya atau kusita semua game-mu." Aku mendorong tubuhnya lebih keras. Ia mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan menjauhiku.

Terdengar suara pintu terbuka disusul suara Sakurai Sho di kejauhan. Aku terkikik geli jika mengingat yang barusan terjadi.

Hampir saja.


=================================Story 3 END=======================================