yamadaaaaa mangap

[Fanfic] Jealousy (Amu x Reia)

Title : Jealousy
Cast : Nakamura Reia, Haniuda Amu
Genre : Shounen-ai, Fluff
Rating : G
Summary : Nakamura Reia itu miliknya Amu. Tuan putrinya Amu. Hime-sama –nya Amu. Siapapun yang berani dekat-dekat dengan Reia, akan merasakan kekuatan seorang Haniuda Amu.

WARNING! Fanfic ini mengandung unsur Shounen-Ai dari awal hingga akhir
Don't like, don't read

=====================================================================================

Haniuda Amu memicingkan matanya yang mengandung tatapan berbahaya. Botol minum kosong dalam genggamannya pun sudah tak berbentukmungkin kalau orang awam yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa plastik bening tersebut awalnya berbentuk botol minumkarena diremas sedemikian rupa oleh pemuda bersurai hitam itu. Matanya menyipit tajam pada lima pemuda di kelas 3-1 yang tengah berlatih double dutch. Sesaat kemudian enam pemuda itu tampak gembira, salah satu pemuda yang tengah memakai topi sontak memeluk pemuda berbaju biru di sampingnya.

Botol minum kosong itu hancur seketika.

Dengan brutal, Amu meraih ponselnyayang merupakan keluaran terbarudan menelepon kontak dengan nama ‘Cintaku’. Pemuda berbaju biru di dalam kelas 3-1 perlahan melepaskan pelukan pemuda bertopi berwajah bule namun pendek itu dan berjalan menuju sudut ruangan. Ia duduk dan meletakkan ponsel miliknyayang dibelikan oleh Amu dengan paksa saat hari ulang tahunnyadi samping daun telinganya.

“Reia, pulang sekarang.”

++++++++++

Reia berjalan dalam diam. Ia tak bicara sepatah katapun setelah Amu memuntahkan seluruh keluhannya dalam satu tarikan nafas. Yang baju Reia terlalu seksi lah, yang Reia tidak jaga jarak sama cowok lain lah, yang Reia kenapa ngebolehin cowok pendek setengah bule itu meluk Reia padahal yang boleh meluk cuma Amu lah, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Sebal mendengar semua curahan hati Amu yang lebay, Reia memilih untuk berjalan kaki dan menolak mentah-mentah untuk naik mobil pribadi keluarga Haniuda yang diatas namakan Amu. Pemuda yang pernah memukul Amu di depan seluruh sekolah itu pun tak mengijinkan tasnya untuk disentuh oleh pemuda yang mengklaim hak milik atas dirinya sejak pertama kali mereka bertemu.

Sesampainya di rumah, Reia masuk tanpa salam atau apapun. Amu mengangguk memberi salam pada nyonya Nakamura yang melongok dari dapur, kemudian mengikuti kekasih tercintanya itu ke kamar. Baru saja Amu hendak melangkahkan kakinya ke dalam kamar, Reia membanting pintu tepat di depan wajah putra pemilik perusahaan besar di Jepang.

“Reia, buka pintunya dong. Kan aku juga mau masuk kamar.” Amu mengetuk-ngetuk pintu kamar Reia yang bertuliskan HA – NR.
“Pulang sana ke rumahmu!” Teriakan Reia terdengar nyaring padahal pintu kamarnya tertutup rapat. Adik perempuan Reia melongok dari tangga, menyuguhkan wajah bosan.
“Tapi kan ini juga rumahku, sayang~”
“Pulang ke rumahmu sendiri!”
“Sayang~”

BRAK

Pintu kamar Reia bergetar.

“Pulang!”
“Oke. Jangan lupa nanti makan malam diluar denganku ya. Kujemput jam 7 malam. Sampai nanti sayang~”

Suara langkah kaki Amu terdengar menjauh. Reia menatap pintu kamarnyayang tadi ia lempari dengan kamus bahasa inggris dengan pandangan membunuh. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa hidupnya bagaikan Tsukushi dalam cerita Hana Yori Dango atau bagaikan Junko dalam cerita Go ji kara kyuu ji made. Sampai sekarang pun ia tak mengerti kenapa keluarganya pun langsung menerima Amu yang melamarnya padahal saat itu mereka masih SMP. Bayangkan, SMP! Salah apa dirinya sampai bisa bertemu dengan Amu di lapangan skateboard saat itu. Pemuda yang punya segalanya itu bahkan tak mundur sedikitpun walau tahu Reia bisa jadi sangat ganas bahkan menyebabkan Amu jadi biru-biru setelah Amu menyanyikan lagu cinta untuknya lewat pengeras suara saat mereka sedang berada di tengah pelajaran.

Reia mengacak rambutnya frustasi. Tak bisa dielaknya bahwa ia akhirnya luluh pada perjuangan Amu tepat saat mereka lulus SMP. Usahanya yang tiada akhir melebihi siapapun yang selama ini selalu menggoda dan menyatakan cinta pada Reia. Tapi sifat posesif Amu juga berada jauh di atas rata-rata. Seorang teman Reia di SMA yang mengantar Reia pulang terlihat memar di sana sini saat masuk sekolah keesokan harinya karena dipukuli oleh bodyguard suruhan Amu.

Sungguh dilema.

LINE

Layar ponsel Reia yang tergeletak terlupakan di atas tempat tidur menyala, menampilkan pesan yang baru saja masuk dari akun dengan nama Okamoto Kauan. Sedikit ogah-ogahan, direbahkannya tubuhnya kemudian berguling sehingga wajahnya tepat berada di atas ponsel.

Kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti orang bingung dan kesal. Ada apa?

Karbon dioksida berhembus dari kedua rongga hidungnya ketika kedua matanya terpejam. Saat kelopak matanya kembali terbuka, Reia tampak lebih tenang. Bagaimanapun Amu sangat mencintainya, dan ia pun sangat mencintai Amu. Hanya saja cara Amu untuk menjaganya sangat sangat berlebihan.

Aku tidak apa-apa, Kauan. Besok latihan lagi?

++++++++++

Setelah semua makananReia lebih suka menyebutnya ‘Camilan Pemakan Uang’ karena porsi tiap piring tidak banyak dan harganya bahkan membuat Reia ngeri walau sembari memejamkan mataterhidang di atas meja, pelayan undur diri sembari mendorong troli makanan. Amu menatap kekasihnya, mempersilahkannya mencicipi makanannya terlebih dahulu. Reia menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, kemudian mulai mendentingkan garpu dan pisau dengan piring-piring teramat cantik yang berada di hadapannya. Sementara itu di meja sebelah, adik Reia dan Amu tampak bersenang-senang, mereka menikmati makanan yang dibayar sepenuhnya oleh Amu sembari berceloteh riang. Reia mengerling sejenak, heran kenapa adiknya bisa akrab dengan adiknya Amu.

Empat insan yang baru saja keluar dari restoran berjalan menuju kedai crepes yang berada tak jauh dari sana. Kedua gadis yang berada dalam rombongan berlari menuju kedai, meninggalkan kakak mereka. Mau tak mau Reia tersenyum juga. Melihat senyuman manis Reia yang bagaikan malaikat tercantik, Amu seakan terbius dan tak berkata sepatah katapun. Ia sama sekali tak ingat bahwa Reia sempat mengamuk padanya tadi sore, semua bersih diguyur senyuman mematikan dari Reia.

Niichan! Hayaku! Aku mau yang ini!” Adik perempuan Amu berteriak dari kedai, sementara adik Reia terkikik di sebelahnya. Sang kakak berlari menghampiri adiknya, meninggalkan sang hime yang berjalan di belakang.

Seseorang menubruk Reia kemudian merangkulnya.

“Whoa, Reia, kebetulan ketemu di sini.”

Reia menoleh. Didapatinya gorila,…. eh bukan, Morimoto Shintaro berada di sebelahnya dan tengah merangkul dirinya. Seorang lagi merangkul Reia dari sisi satunya, yang ternyata adalah Kauan.

“Oi kalian, Reia bisa remuk kalau kalian himpit seperti itu.” Matsumura Hokuto muncul di sebelah Shintaro. Walau berkata seperti itu, tapi ia sama sekali tidak berusaha melepaskan Reia yang tampak sangat mungil di tengah-tengah dua pemuda berbadan bongsor.
“Uwaa kalian. Ciee jalan-jalan.” Kedua mata Reia menyipit karena tertawa.
“Hokuto lagi berantem sama Jesse, makanya ngajakin kita-kita keluar.” Shintaro sontak melepaskan rangkulannya ketika Hokuto mencekik lehernya dengan lengan kanannya.
“He? Aku tidak tahu kalau kau pakai cincin, Reia. Sejak kapan? Gila, bagus banget.” Kauan meraih tangan kiri Reia dan mengamati cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin itu baru saja dibelikan Amu tadi saat berangkat ke restoran. Katanya untuk menegaskan bahwa Reia adalah miliknya.
“Barusan kok.” Ucap Reia lirih. Ia ikut mengamati cincin yang dipakainya. Benar juga, cincin itu sangat cantik.
“Oh, kalian.”

Angin dingin berhembus dan menerpa leher Kauan yang seketika merasa tak nyaman. Ia mendongak, mendapati Amu berdiri tak jauh di depannya. Walau baru mengetahui siswa mana yang bernama Haniuda Amu ketika ia kelas 2 SMA karena ia baru saja pindah dari Brasil, toh ia menyadari juga kalau tatapan yang dilemparkan Amu padanya bukanlah tatapan bersahabat. Sayangnya, otaknya yang sudah beruap karena belajar tadi sore tidak bekerja cukup cepat untuk menerjemahkan situasi yang terjadi.

“Heh setengah bule, lepasin Reia.” Ujar Amu memerintah. Yang diperintah justru mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa?”

Mendidih. Darah dan otak Amu mendidih.

Amu berjalan mendekati Reia kemudian menariknya dan merangkulnya dengan tangan kiri. Sengaja, dengan begini cincin yang ada di jari manis Amu bisa terpampang dengan jelas. Entah Kauan sedang tidak beres atau memang lola, ia malah bergeming diam sembari mengerjap bingung. Hokuto serta Shintaro menatap Kauan dengan ekspresi wajah serius, berharap blasteran Jepang-Brasil itu segera sadar.

Sepertinya transfer informasi di tubuh Kauan melewatkan jalan menuju otak.

PLUK

Kauan maju dan merangkul Reia, membuat empat pasang mata yang ada di sana membelalak.

“Bagusan juga begini, Reia keliatan makin mungil. Nee, Reia?”

Selanjutnya Hokuto dan Shintaro berusaha mati-matian mencegah Amu menerkam Kauan sementara Reia meraih ponsel dari saku jaket Amu sehingga ia tidak bisa menghubungi para bodyguard-nya yang super berotot.

++++++++++

Minggu perayaan ulang tahun sekolah berlangsung dengan meriah. Lomba unjuk diri antar kelas yang diadakan di aula sekolah pun tampak meriah. Ada yang men-cover dance dari Arashi dan V6, ada yang melakukan break dance, dan lain-lain. Siswa yang memakai tag nama Haniuda Amu itu bersandar pada dinding aula, memperhatikan setiap pertunjukan.

Kauan aman-aman saja setelah kejadian malam itu. Reia membujuknya mati-matian untuk tidak menghajar Kauan dengan bodyguard-nya dengan alasan loading di otak Kauan memang selalu terhambat. Malam itu Reia mengijinkannya menginap di rumahnya, sehingga Amu merasa ia harus membalas kebaikan tuan putrinya dengan mengikuti kemauannya.

“Beri tepuk tangan untuk kelas 3-1!”

Kepala Amu terdongak. Lima pemuda muncul dari balik tirai dengan membawa dua buah tali yang biasa digunakan untuk skipping. Salah satu pemuda tersenyum dengan menyipitkan mata dan menampakkan barisan gigi putihnya. Ia memakai celana biru di atas lutut, baju tanpa lengan berwarna biru yang ditutup dengan kaos putih dengan kerah lebar hingga menampakkan kedua pundaknya. Amu mengerjap-erjapkan kedua matanya. Sepertinya ia tidak sanggup melihat cahaya cemerlang yang dipancarkan kekasihnya.

Lima pemuda di atas panggung yang menamakan dirinya Team RA tampak berkonsentrasi penuh saat melakukan double dutch. Reia pun beberapa kali merasa kesusahan. Namun pertunjukan terus berlanjut hingga Shintaro melakukan backflip dari panggung yang lebih tinggi dan berhasil melalui tali skipping yang berputar ke arahnya. Pertunjukan diakhiri dengan teriakan seluruh murid kelas 3-1 yang menontonnya. Kouchi Yugo langsung meninju udara, Shintaro memukul lantai panggung, Hokuto berbalik membelakangi teman-temannya, dan Kauan yang langsung memeluk Reia yang juga menunjukkan ekspresi bahagia.

Tampaknya setelah ini ada beberapa laki-laki berseragam hitam yang bergerak menuju rumah kediaman Okamoto.

====================================THE END==========================================